Sabtu, 16 April 2016

4

Naskah Drama : Peritiwa Perobekan Bendera di Hotel Yamato


 NASKAH DRAMA SEJARAH
"Peristiwa Perobekan Bendera di Hotel Yamato"
Hasil gambar untuk peristiwa perobekan bendera di hotel yamato


1.    Sulfiani
2.    Nur Fauza
3.    Nunuk Kasmawati
4.    Mikel
5.    Nurhidayah
6.    Mita Adhelia
7.    Nur Isra
8.    Zulfaidah




 Hasil gambar untuk peristiwa perobekan bendera di hotel yamato
Judul          : Peristiwa Pengrobekan Bendera di Hotel Yamato
Narator       : Nurhidayah
Tokoh         :   1. Zulfaidah sebagai Tentara 1
                       2. Nur Fauza sebagai Tentara 2
                       3. Mikel sebagai Sudirman
                       4. Sulfiani sebagai Hariyono
                       5.  Mita Adhel sebagai Ploegman
                       6.  Nunuk sebagai Sidik
                       7.  Nur Isra sebagai pemuda 1

Ketika Proklamasi Kemerdekaan RI dikumandangkan, 17 Agustus 1945, rakyat Indonesia merayakan dengan suka cita. Di Surabaya, menandai kemerdekaan itu arek-arek Suroboyo satu persatu menancapkan tiang, mengibarkan bendera merah putih di berbagai sudut kota. Pengibaran itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi karena penjajahan Jepang belum sama sekali hilang. Namun, setelah munculnya maklumat pemerintah (31 Agustus 1945) yang menetapkan mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Merah Putih dikibarkan terus di seluruh Indonesia, gerakan pengibaran bendera makin meluas ke segenap pelosok kota. Di berbagai tempat strategis dan tempat-tempat lainnya, susul menyusul bendera dikibarkan.
Sementara itu18 September  pukul 21.00 WIB sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr W.V.Ch Ploegman Bersiap-siap untuk mengibarkan bendera Belanda dengan warna merah-putih-biru
Ploegman    : bagaimana persiapan pengibaran benderanya?
Tentara 1     : Lapor pak, kita sudah akan memulai pengibaran dipuncak      tertinggi di hotel yamoto ini.
Ploegman     : baiklah laksanakan sebaik mungkin.
Tentara 2    : Siap pak!!

Ploegman    : Selanjutnya tugas kita untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Namun selain itu, akan kita bawa kembali negeri ini menjadi jajahan Hindia Belanda
(Kemudian bendera Belanda dengan warna merah-putih-biru pun selesai dikibarkan)
Keesokan harinya (19 September 1945) ketika arek Surabaya melihatnya, seketika meledak amarahnya.
Pemuda 1    :  Lihat bendera Belanda yang berkibar itu (sambil menunjuk bendera Belanda)
Pemuda 2    :   mereka datang dengan maksud ingin menjajah kita lagi.
Pemuda 1    :  Sebaiknya kita beritahu yang lain
Begitu kabar tersebut tersebar di seluruh kota Surabaya, sebentar saja Jl Tunjungan dibanjiri oleh massa rakyat, mulai dari pelajar berumur belasan tahun hingga pemuda dewasa, semua siap untuk menghadapi segala kemungkinan. Massa terus mengalir hingga memadati halaman hotel serta halaman gedung yang berdampingan penuh massa dengan luapan amarah. Agak ke belakang halaman hotel, beberapa tentara Jepang tampak berjaga-jaga.
Pemuda 1 : Hei tentara laknat, untuk apa kau datang ke mari lagi?
Tentara 1  : Hahaha bukan urusan kalian.
Pemuda 2  : Kalau ingin menjajah, sebaiknya urungkan niatmu itu.
Pemuda 1   : Lalu untuk apa kau pasang bendera itu? Ato kita robek
Tentara 2   : (mengeluarkan pistol)  kalian semua jangan macam-macam? Atau    Aku bunuh kalian semua !!!
(dengan was-was Mereka pun mundur selangkah demi selangkah, kemudian muncullah residen Sudirman dikawal oleh Sidik dan haryono)
Tentara 1    :  Anda tidak boleh masuk!!!
Sudirman    : aku datang dengan maksud baik ingin berbicara dengan pimpinanmu, pertemukan aku dengannya.
Tentara 2    : Baiklah tunggu sebentar.
(Tentara itupun masuk menemui pimpinannya yaitu ploegman )
Tentara 1    :  Tuan ada yang ingin menemui anda
Ploegman    :  Siapa?
Tentara 2    :  Sudirman dan kawan – kawannya,
Ploegman    :  Baiklah, Izinkan mereka masuk
( tentara pun keluar untuk memberitahu sudirman )
Sudirman beserta Hariyono dan Sidikpun masuk.
Ploegman    :  Ada apa Sudirman kau ingin menemuiku
Sudirman    :  Ploegman, kuminta kau turunkan Bendera Belanda itu,
Hariyono    :  Iya, benar! Bendera itu, tak dapat persetujuan oleh Pemerintah RI Daerah Surabaya!”
Ploegman    : Huuh, terserah kami, mau memasangnya atau tidak, kami tidak perlu izin dari siapapun?
Sidik           : Tentu saja perlu! Jika kau tak menurunkan bendera itu, kita para pemuda yang akan sendiri menurunkannya dan kalau bisa juga kita robek!”

Hariyono    : Benar. Cepat turunkan bendera itu, atau kita robek sekalian bendera bodoh itu!
Ploegman     : Apa kau bilang?  (menarik kerah baju Hariyono) Bendera bobrok? Justru Sang Saka Merah Putihmu yang terus berkibar itu bendera bodoh!
Sidik           : Kau telah menghina kedaulatan bangsa Indonesia
Sudirman    : Dan kau juga melecehkan gerakan pengibaran bendera merah-putih yang sekarang sedang berlangsung!
Ploegman.   : Siapa yang kau anggap menghina dan melecehkan? Tentara Sekutu telah menang perang, dan karena Belanda adalah anggota Sekutu, maka sekarang Pemerintah Belanda berhak menegakkan kembali pemerintahan Hindia Belanda. Republik Indonesia? Itu tidak kami akui.

Hariyono    : Tentu saja kau, para penjajah!” (menunjuk tangan ke Ploegman dan kawannya)
Ploegman    : (sambil mengacungkan pistol) Lebih baik kalian semua Keluar dan biarkan bendera itu tetap berkibar
Melihat gelagat tidak menguntungkan itu, pemuda Sidik dan Hariyono yang mendampingi Sudirman mengambil langkah taktis. Sidik menendang revolver dari tangan Ploegman. Revolver itu terpental dan meletus tanpa mengenai siapapun.
Hariyono    :  Jendral Sudirman mari kita keluar!! Keadaan mulai tidak terkendali.
 Hariyono segera membawa Sudirman ke luar, sementara Sidik terus bergulat dengan Ploegman dan mencekiknya hingga tewas. Beberapa tentara Belanda menyerobot masuk karena mendengar letusan pistol, dan sambil mengacungkan pistol  ke arah Sidik.

Tentara 2    : (datang karena mendengar letusan pistol Ploegman) “Ada apa ini?”
Tentara 1    : “Ploegman …”
Tentara 2    : “Sidik, kau telah mencekik Ploegman. Tewaslah kau!”
(mengeluarkan pistol dan langsung meletuskannya ke arah Sidik, Sidik pun tewas)
Hariyono : “Lebih baik, kita segera ke atas!”

          Sudirman yang mulanya bersama Hariyono terlibat dalam pemanjatan tiang bendera bersama Kusno Wibowo. Di luar hotel, para pemuda Surabaya yang mengetahui gagalnya perundingan tersebut langsung mendobrak masuk untuk ke dalam Hotel Yamato.
Rakyat        : Kita ingin masuk!
Pemuda 1     : Kita akan turunkan bendera itu!
Pemuda 2    : Jika kami tidak bisa masuk, kita akan dobrak paksa!
Tentara 1    : Tidak bisa!
Pemuda 1     : Kalau begitu, kita akan dobrak masuk!
Tentara 1    : Jika kalian memaksa masuk, banyak sekali tentara kami yang akan Manahan  kalian!”
Tentara 2    : Jadi, apa yang kalian lakukan semuanya percuma!
Pemuda 1    : Heh, lihat! Itu Residen Sudirman!
Pemuda 2    : Iya, itu Residen Sudirman dengan Hariyono !  mereka akan menurunkan bendera kalian!
Tentara 2    : Benar. Panggil pasukan untuk ke puncak Hotel!

Sementara yang terjadi di puncak Hotel Yamato …
Hariyono    :  Walau panas, merah putih harus tetap dikibarkan!
Sudirman    :  Walau dingin sekalipun, merah putih tetap harus berkibar!
Hariyono    :  Turunlah kau bendera bodoh (menurunkan bendera belanda yang berkibar)
Sudirman    : Merdeka! (merobek bagian biru dan menggereknya kembali)
Haryono dan Sudirman           : Merah putih harus tetap berkibar!
Semuanya   : “MERDEKA! MERDEKA!” (mengangkat tangan)

          Peristiwa heroik yang terjadi di Hotel Yamato itu antara lain menandai satu peristiwa besar dari tiga peristiwa lainnya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI di Surabaya.

4 komentar: